Metode Dakwah


Metode Dakwah
Oleh: Ahmad Yani
Kamis, 30 April 2020



A.      Definisi Metode Dakwah
Metode berasal dari bahasa Yunani yaitu methodos, merupakan gabungan dari kata meta yang berarti melalui, mengikuti, sesudah, dan kata hodos yang berarti jalan, cara. Sedangkan dalam bahasa Jerman metode berasal dari akar kata methodica yang berarti ajaran tentang metode. Sedangkan dalam bahasa Arab metode disebut thariq, atau thariqah yang berarti jalan atau cara. Kata-kata tersebut identik dengan kata al-Uslub. (Aliyudin, 2010: 1010)
Sedangkan ushlub secara istilah, menurut Syaikh al-Jurjani adalah:
ما يمكن التوصل بصحيح النظر الى المطلوب
Sesuatu yang dapat mengantarkan kepada tercapainya tujuan dengan paradigma yang benar.
Sedangkan secara istilah, uslub al-Da’wah adalah:
الطرق التى يسلكها الداعى فى دعواته او تطبيق مناهج الدعوة
Kemudian menurut Basrah Lubis, metode adalah “a systematic arragement of thing or ideas”. (suatu sistem atau cara untuk mengatur suatu ide atau keinginan). Dengan demikian dari beberapa definisi di atas dapat dipahami, bahwa metode dakwah (ushlub al-Da’wah) adalah suatu cara dalam melaksanakan dakwah, agar mencapai tujuan dakwah secara efektif dan efisien. Dengan kata lain, segala cara dalam menegakan syari’at Islam untuk mencapai tujuan dakwah yang telah ditentukan, yaitu terciptanya kondisi kehidupan mad’u yang selamat dan sejahtera (bahagia) baik di dunia maupun di akhirat kelak. Hal ini sejalan dengan hakikat gerakan dakwah yang dinyatakan al-Ghazali. Menurutnya gerakan dakwah merupakan proses menegakan syariat Islam secara terencana dan teratur agar manusia menjadikannya sebagai satu-satunya tatanan hidup yang haq dan cocok dengan fithrahnya. (Aliyudin, 2010: 1011)
Kata metode telah menjadi bahasa Indonesia yang memiliki pengertian “suatu cara yang bias ditempuh atau cara yang ditentukan secara jelas untuk mencapai dan menyelesaikan suatu tujuan, rencana sistem, tata piker manusia”. Sedangkan dalam metodologi pengajaran ajaran Islam disebutkan bahwa metode adalah “Suatu cara yang sistematis dan umum terutama dalam mencari kebenaran ilmiah”. Dalam kaitannya dengan pengajaran ajaran Islam, maka pembahasan selalu berkaitan dengan hakikat penyampaian materi kepada peserta didik agar dapat diterima dan dicerna dengan baik. (Munir & Ilahi, 2012: 32-33)
Metode dakwah adalah jalan atau cara yang dipakai juru dakwah untuk menyampaikan ajaran materi dakwah Islam. Dalam menyampaikan suatu pesan dakwah, metode sangat penting peranannya, karena suatu pesan walaupun baik, tetapi disampaikan lewat metode yang tidak benar, maka pesan itu tidak biasa saja ditolak oleh si penerima pesan. (Munir & Ilahi, 2012: 33)
B.       Klasifikasi Prinsip-prinsip Penggunaan Metode Dakwah
Prinsip metode dakwah artinya ruh atau sifat yang menyemangati atau melandasi berbagai cara atau pendekatan dalam kegiatan dakwah. Untuk lebih jelas diantaranya mengacu kepada petunjuk al-Quran surat an Nahl ayat 125 terdiri dari tiga prinsip yaitu al-hikmah, al-mauidzah al-hasanah, dan mujadalah bi al-lati hiya ahsan. (Aliyudin, 2010: 1015)
1.    Bi al-Hikmah, yaitu berdakwah dengan memerhatikan situasi dan kondisi sasaran dakwah dengan menitikberatkan pada kemampuan mereka, sehingga di dalam menjalankan ajaran-ajaran Islam selanjutnya, mereka tidak lagi merasa terpaksa atau keberatan.
2.    Mau’izatul Hasanah, yaitu berdakwah dengan memberikan nasihat-nasihat atau menyampaikan ajaran-ajaran Islam dengan rasa kasih saying, sehingga nasihat dan ajaran Islam yang disampaikan itu dapat menyentuh hati mereka.
3.    Mujadalah Billati Hiya Ahsan, yaitu berdakwah dengan cara bertukar pikiran dan membantah dengan cara tidak memberikan tekanan-tekanan yang memberatkan pada komunitas yang menjadi sasaran dakwah. (Aliyudin, 2010: 1034)
C.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Metode Dakwah
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode dengan mengetahui prinsip-prinsip metode atau pedoman dasar suatu metode. Seorang da’i akan memperhatikan pula faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan dan penggunaan suatu metode agar metode yang dipilih sesuai dengan fungsinya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode adalah tujuan. Hal-hal yang dipertimbangkan diantaranya adalah sasaran dakwah, baik masyarakat atau individual dengan segala kebijakan/politik pemerintah, tingkat usia, pendidikan, peradaban (kebudayaan) dan lain sebagainya. Situasi dan kondisi yang beraneka ragam dengan keadaannya. Media dan fasilitas (logistik) yang tersedia, dengan berbagai macam kuantitasnya. Kepribadian dan kemampuan seorang da’i atau muballigh. Semua hal yang terkait dalam kegiatan dakwah harus berjalan dengan seimbang agar memperoleh hasil yang maksimal. (Alhidayatillah, 2017: 269)
D.      Ayat tentang Metode Dakwah
Ketika membahas tentang metode dakwah, maka pada umumnya merujuk pada surat an-Nahl: 125
ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ١٢٥ 
“ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Alhidayatillah, 2017: 269)
E.       Klasifikasi Metode-metode Dakwah
Metode dakwah dapat diklasifikasikan menjadi beberapa metode. Ada yang berupa aktivitas bahasa lisan/tulisan (bi ahsan al- qawl/ bil kitabah) dan aktivitas badan atau perbuatan (bi ahsan al-‘amal). Selanjutnya dalam tataran lebih teknis aktivitas lisan dalam menyampaikan pesan dakwah dapat berupa metode ceramah (muhadarah), diskusi (muzakarah), debat (mujadalah), dialog (muhawarah), petuah, nasihat, wasiat, ta’lim, peringatan, dan lain-lain. (Aliyudin, 2010: 1014)
Aktivitas tulisan berupa penyampaian pesan dakwah melalui berbagai media massa cetak (buku, majalah, koran, pamplet, dan lain-lain). Akivitas badan dalam menyampaikan pesan dakwah dapat berupa berbagai aksi amal shaleh contohnya tolong menolong (ta’awun) melalui materi, pengobatan dan lain-lain, pemberdayaan sumber daya manusia, lingkungan, penataan organisasi atau lembaga-lembaga keislaman. (Aliyudin, 2010: 1014-1015)
Menurut Jamaluddin Kafie Metode klasik yang masih tetap up-to-date adalah:
1.        Metode sembunyi-sembunyi, pendekatan kepada sanak keluarga terdekat.
2.        Metode bil lisan, bil qalam, dan bil hal.
3.        Metode bil hikmah, mauidah hasanah, mujadalah bi alati hiya ahsan.
4.        Metode tabsyir wa al-tandzir, amar ma’ruf nahi munkar, ta’awun ala al-biri wa al-taqwa, wala ta’awanu ala al-ismi wa al-udwan, dalla ala al-khair, tawashau bi al-haq wa al-sabr, tadzkirah. (Aliyudin, 2010: 1015)

Sumber Referensi:
Alhidayatillah, N. (2017). Dakwah Dinamis di Era Modern. Jurnal An-Nida’, 2(41), 265–276.
Aliyudin. (2010). Prinsip-prinsip Metode Dakwah Menurut Al-Quran. Jurnal Ilmu Dakwah, 4(4), 1007–1022.
Munir, M., & Ilahi, W. (2012). Manajamen Dakwah. Jakarta: Kencana.
Metode Dakwah
Baca Juga: