Mengenal Kitab Manahil Al-irfan fi Ulum Al-Qur'an Karya Imam Az-Zurqani

 A. Biografi penulis kitab Manahil Irfan 

Syekh Muhammad Abdul Azim Az-Zurqani merupakan salah satu seorang ulama yang berkompeten dalam bidang al-qur’an, hal ini dibuktikan dengan ditulisnya kitab Manahil Al-Irfan Fi Ulumil Qur’an. Bukan hanya itu Syekh Manna’ al-Qathan juga banyak mengutip pendapat-pendapat syekh Muhammad Abdul Azim Az-Zarqani dalam Manahil Al-Irfan Fi Ulumil Qur’an yang ditulis al-Qathan dalam Mabahits Fi Ulumil Qur’an. Salah satu contoh al-Qathan mengutip pendapat Az-Zarqani adalah tentang hikmah turunnya alQur’an secara berangsur-angsur. Az-Zarqani mengatakan salah satu hikmah diturunkannya al-qur’an secara bertahap adalah supaya orang mengkaji dan membacanya surah demi surah. 

Mengenal Kitab Manahil Al-irfan fi Ulum Al-Qur'an Karya Imam Az-Zurqani

B. Isi kandungan kitab Manahil Irfan 

Telah terdapat petunjuk bahwasanya kitab ini memuat tujuh belas tema dari tema ilmu-ilmu al-qur’an, dan tema-tema ini yakni: 

1. Tema pertama: fi> ma’na ‘ulu>m al-Qur’a<n (tentang definisi ‘ulu>m al-qur’a>n). 

2. Tema kedua: fi> ta>rikh ‘ulu>m al-Qur’a<n (tentang sejarah ‘ulu>m al-qur’a>n).

3. Tema ketiga: fi> nuzu<l al-Qur’a<n (tentang turunnya al-qur’a>n).

4. Tema ke-empat: fi> awwalin ma nazala wa a<khirin ma nazala min al-qur’a>n (tentang yang pertama turun dan yang terakhir turun dari al-qur’a>n).

5. Tema kelima: fi> asba>b an-nuzu>l (tentang sebab-sebab turun (al-qur’a>n)).

6. Tema ke-enam: fi> nuzu>l al-Qur’a<n ‘ala< sab’ati ahrufin (tentang turunnya al-qur’an atas tujuh huruf).

7. Tema ketujuh: fi> al-makky> wa al-madany> min al-Qur’a>n (tentang makki dan madani dari al-qur’a>n).

8. Tema kedelapan: fi> jam’il qur’a>nil kari>m wa ma> yata’allaqu bihi (tentang pengumpulan al-qur’a>n dan apa yang berkaitan dengannya).

9. Tema kesembilan: fi> tartib aya>til qur’a>n wa suwarihi (tentang urutan ayat al-qur’a>n dan surah-surahnya).

10. Tema kesepuluh: kita>batul qur’ani wa rasmihi wa masha>hifihi (penulisan al-qur’a>n, rasmnya, dan mushaf-mushafnya).

11. Tema kesebelas: fi> al-qira>’a>ti wa al-qura>’i wa syubuha>ti fi>hima> (tentang qira’at dan qari’ dan keragu-raguan di dalam keduanya).

12. Tema kedua belas: fi> at-tafsi>ri wa al-mufassiri>na wa ma> yata’allaqu bihima> (tentang tafsir dan para penafsir dan apa yang berkaitan dengan keduanya).  

13. Tema ketiga belas: fi> tarjamatil qur’a>n wa hakamiha tafshi>lan (tentang terjemah al-qur’a>n dan hikmah-hikmahnya secara terperinci).

14. Tema ke-empat belas: fi> an-naskh (tentang nasikh).

15. Tema kelima belas: fi> muhkamil qur’a>ni wa mutasya>bihi (tentang muhkam al-qur’a>n dan mutasyabihnya).

16. Tema ke-enam belas: fi> uslu>bil qur’a>nil kari>m (tentang uslub (gaya bahasa) al-qur’a>nul karim).

17. Tema ke-tujuh belas: fi> i’ja>zil qur’a>n wa ma> yata’allaqu bihi (tentang mukjizata al-qur’a>n dan apa yang berkaitan dengannya).

C. Metode kitab Manahil Irfan

Kita dapat meringkas metode yang diikuti penulis dalam bukunya dengan point-point berikut:  

1. Dalam hal yang berkaitan dengan pemilihan tema dan bahasan yang dikaitkan dengan al-qur’a>n, penulis memilih yang paling penting, sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya.

2. Az-Zurqoni  mengaitkan tujuh belas bahasan, dan menjadikan setiap bahasan darinya memuat berbagai masalah yang ada dibawahnya, sebagaimana ia memberi banyak masalah dan cabang dengan judul khusus yang menunjukkan atas masalah yang ada. Dan sungguh ia telah menunjukkan itu di dalam pembukaan kitabnya dengan ucapan: “dan saya akan membuat point-point dari kurikulum terjadwal menjadi judul yang menonjol di antara topik-topik yang mendasari buku ini, mengikuti sebagian jejak pada umumnya point tersebut terdapat dalam pemberian judul dan urutan”.

3. Penulis bermaksud menyatakan arti judul yang dia cantumkan untuk penelitian jika keadaan mengharuskan demikian. Dan kami menemukannya beliau berkata: -misal- “bahasan ketiga tentang nuzu>l al-qur’a>n” kemudian beliau menyebutkan dibawahnya “makna nuzu>l al-qur’a>n”, dan begitulah yang ia lakukan di beberapa tema, seperti asba>b an-nuzu>l, turunnya al-qur’a>n atas tujuh huruf, dan al-makki dan al-madani .. hingga akhir.

4. Dari tampilan muka yang menonjol di kitab ini bahwasanya beliau terkadang menyebutkan dibawah bahasan pada sebagian besar -keutamaan mengenal atau mempelajari bahasan ini … maka ia berkata dibawah bahasan “yang pertama dan terakhir apa yang telah turun”: keutamaan ilmu tentang yang pertama turun dan yang terakhirnya. Dan dibawah bahasan “asba>b an-nuzu>l” ia berkata: keutamaan mengenal asba>b an-nuz>ul. Dan demikian juga beliau menulis di bahasan “nuzu>l al-qur’a>n atas tujuh huruf” -dan jika ada keutamaan disini yang berkaitan dengan perbedaan bacaan dan bilangan huruf- dan demikian juga di tema “al-makki dan al-madani” dan .. hingga akhir.

5. Penulis menawarkan ketika terdapat munasabah maka ia menjelaskan latar keterhubungan kuat antara Islam dan Ilmu. Dan sesungguhnya Islam menyeru kepada ilmu, bahasan dan pandangan tentang suatu keadaan dan jiwa.

6. Bekerja untuk menyoroti rahasia syariat dan hikmahnya kapanpun diminta untuk membuktikan bahwasanya ini adalah obat bagi umat manusia, dan jalan kesempurnan serta kesuksesannya.

7. Penulis  menyinggung perbedaan para ulama dalam masalah yang menjadi perhatian mayoritas dengan penyampaian dalil mereka dan perdebatannya kemudian beliau menyebutkan pendapat yang kuat.

8. Kemudian, penulis menyajikan seperangkat kesamaan yang terkait dengan topiknya kemudian menawarkan jawaban darinya.

9. Penulis memberikan perhatian atas hikmah yang berkaitan dengan sebagian perkara-perkara tasyri’ dan apa yang terjadi di tempat terjadinya (tasyri’), sebagaimana beliau menyebutkan hikmah dari turunnya al-qur’a>n dan hikmah dari penamaan surah-surah, dan hikmah dari nasikh, dan selainnya. 

10. Penulis menutup sebagian bahasan dengan kesimpulan singkat, kata dalam topik atau komentar pada materinya.

11. Penulis coba menyebutkan beberapa contoh dari al-qur’a>n di bawah setiap topik tanpa berusaha untuk memahaminya.

Inilah apa yang penulis  ikat dengan metode yang telah ia tulis di pembukaan kitab  dan sempurna dengannya.

D. Keutamaan kitab Manahil Irfan

Keutamaan kita ini yakni, kitab ini dapat dipelajari oleh berbagai kalangan masyarakat serta sesuai dengan kebutuhan pembaca di masa kontemporer saat ini. Sebagaimana Imam Az-Zurqoni menyebutkan dalam kitabnya, bahwasanya:

“Dalam apa yang saya tulis, saya mencoba menyelaraskan kebutuhan kaum Azhar untuk penelitian dan analisis dan di antara keinginan massa pembaca kontemporer yakni untuk mendekatkan uslub dan membuka jalan … ”.  


Daftar Pustaka

Al-Qathan, Manna’ Khalil. Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, Terj. Mudzakir. Bogor: Litera Antar Nusa, 2019.

As-Sabt, Khalid bin Usman. Kitab Manahil ’Irfan Li Az-Zurqani: Dirasah Wa Taqwim. Madinah An-Nabawiyyah: Alukah, 1990.

Az-Zurqani, Muhammad Abdul Adzhim. Manahil Irfan Fi Ulumil Qur’an, juz 1. Beirut: Dar al-Kitab Arabi, 1990.

Penulis: Ahmad Yani
Website: Jejak Mufassir

Mengenal Kitab Manahil Al-irfan fi Ulum Al-Qur'an Karya Imam Az-Zurqani
Baca Juga: