Doa dan Shalat di Akhir Malam - Jejak Mufassir

Doa dan Shalat di Akhir Malam

Doa dan Shalat di Akhir Malam

Artikel ini akan membahas mengenai doa dan shalat di akhir malam. Terdapat hadis qudsi yang membahas mengenai doa dan shalat di akhir malam. Walau demikian, tidak semua orang mampu memahami hadis qudsi tersebut begitu saja. Oleh karenanya, pada artikel ini kami berusaha untuk menjelaskan hal tersebut dengan sumber rujukan yang jelas dan kredibel.

Doa dan Shalat di Akhir Malam
Doa dan Shalat di Akhir Malam



Mari baca artikel ini hingga akhir. Semoga artikel ini mampu membuka pintu wawasan dalam diri kita. Selamat membaca dan memahami.

Hadis Tentang Doa dan Shalat di Akhir Malam

حدثنا عبد العزيز بن عبد الله , حدثنا مالك , عن ابن شهاب , عن أبي عبد الله الأغر وأبي سلمة بن عبد الرحمن , عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله ﷺ قال : ينزل ربنا تبارك وتعالى كل ليلة إلى سماء الدنيا , حين يبقى ثلث اليل الآخر , فيقول : من يدعوني فاستجب له ؟ من يسألني فأعطيه ؟ من يستغفرني فأغفر له ؟

(An-Nawawi & Al-Qasthalani, 2007: 125)

أخرجه البخاري في كتاب الجمعة , باب الصلاة من آخر الليل, برقم 1145

Terjemah Hadis Tentang Doa dan Shalat di Akhir Malam

Diceritakan kepada kami dari ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah, diceritakan kepada kami dari Malik, dari Ibnu Syihab, dari Abu ‘Abdullah al-Aghar dan Abu Salamah din ‘Abdul Rahman dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda : Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ‘Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.’ (HR. Bukhari no. 1145)

Penjelasan Hadis Mengenai Doa dan Shalat di Akhir Malam

Imam An-Nawawi Rahimahullah menyatakan bahwa hadits di atas termasuk di antara sekian banyak hadits yang menjelaskan sifat-sifat Allah Ta’ala. Mengenai hadits-hadits seperti ini ada dua aliran yang masyhur di kalangan para ulama yang telah dijelaskan di muka dalam Kitab Al-Iman. Secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut.

Pertama, aliran mayoritas ulama salaf dan sebagian mutakallimin (teolog muslim). Mereka beriman bahwa sifat-sifat Allah Ta’ala itu adalah haq (benar adanya) sesuai dengan keagungan Allah Ta’ala dan meyakini bahwa zhahir sifat-sifat itu yang sama dengan sifat-sifat manusia bukanlah yang dimaksud. Aliran ini tidak mau mena’wilkannya, tetapi meyakini kemahasucian Allah Ta’ala dari sifat-sifat makhluk, seperti berpindah-pindah, bergerak, dan seluruh sifat makhluk yang lainnya.

Kedua, aliran mayoritas mutakallimin dan beberapa kelompok salaf. Pendapat mereka dikisahkan di sini dari Malik dan Al-Auza’I, yaitu bahwa sifat-sifat Allah Ta’ala dapat dita’wilkan sesuai dengan tempat dan sesuai dengan konteksnya. Dengan dasar inilah mereka mena’wilkan hadits-hadits di atas menjadi dua ta’wilan. Pertama, pena’wilan yang dilakukan Malik ibnu Anas Radhiyallahu’anhu dan lainnya bahwa maksud Rabb turun adalah rahmat dan perintah-Nya turun atau malaikat-Nya yang turun, seperti jika dikatakan “Setan berbuat demikian” jika orang yang menuruti setan melakukannya atas perintah setan. Kedua, sifat-sifat itu dipahami secara majazi. Maksud “Rabb turun” adalah Rabb (Tuhan) menerima dan mengabulkan doa orang-orang yang berdoa dengan kasih sayang.

Sabda Rasulullah ﷺ : “Ketika tersisa sepertiga malam yang akhir,” dalam riwayat yang lain “Ketika tersisa sepertiga yang awal,” dan dalam riwayat lain lagi “Ketika lewat setengah malam atau dua pertiga malam.” Al-Qadhi ‘Iyadh mengomentari perbedaan redaksi di atas bahwa redaksi yang pertamalah yang shahih sebagaimana pendapat para guru hadits. Namun, mungkin juga maksud Allah Ta’ala turun ke langit dunia adalah setelah sepertiga awal malam. Seruan-Nya: “Siapa yang mau berdoa kepada-Ku” yang dimaksudkan adalah doa yang dilakukan setelah sepertiga malam yang akhir.

Imam An-Nawawi Rahimahullah mengomentari pendapat Al-Qadhi ‘Iyadh di atas bahwa perbedaan redaksi hadits itu boleh jadi pada waktu Nabi ﷺ diberi tahu tentang satu waktu, kemudian beliau mengabarkannya kepada para sahabat, dan para waktu lain beliau diberi tahu tentang waktu yang lain, kemudian beliau mengabarkannya kepada para sahabat. Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu mendengar dua kabar Rasulullah ﷺ itu dan meriwayatkan keduanya, sedangkan Abu Sa’id Al-Khudry Radhiyallahu’anhu mendengar kabar tentang satu waktu saja, kemudian ia meriwayatkannya bersama Abu Hurairah sebagaimana yang disebutkan Imam Muslim pada riwayat yang akhir.

Pendapat Imam An-Nawawi di atas menolak pendapat Al-Qadhi ‘Iyadh di atas yang mendha’ifkan (melemahkan) riwayat dengan lafal “Sepertiga malam yang awal.” Bagaimana ia mendha’ifkannya, padahal hadits di atas diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih-nya dengan sanad shahih yang berasal dari dua sahabat, yaitu Abu Sa’id dan Abu Hurairah? Wallahu’alam. (An-Nawawi & Al-Qasthalani, 2007: 129-130) 

Imam Tirmidzi mengatakan bahwa riwayat Abu Hurairah adalah riwayat yang paling shahih  dalam masalah ini, sebab perawi riwayat-riwayat yang menyelisihinya masih diperselisihkan. (Al-Asqalani, jil. 6, 2008: 284)


Rujukan

An-Nawawi, I., & Al-Qasthalani. (2007). Kumpulan Hadits Qudsi Beserta Penjelasannya (4 ed.). (S. Abul-Hasan, Ed., M. Khoiri, & M. Asmawi, Trans.) Yogyakarta: Al-Manar.

Asqalani, I. H. (2008). Fathul Baari syarah : Shahih Bukhari (Vol. 6). (G. A. Ummah, Trans.) Jakarta: Pustaka Azzam.


Demikian artikel mengenai doa dan shalat di akhir malam. Semoga dapat menjadi sumber wawasan bagi kita semua.

Penulis: Ahmad Yani
Doa dan Shalat di Akhir Malam
Doa dan Shalat di Akhir Malam

Harga : *Belum termasuk Ongkos kirim
Pesan via whatsapp Pesan via Email
Close