Mengenal Kitab Funun Al-Afnan Fii ‘Uyun Ulum al-Qur’an Karya Imam Ibn Al-Jauzi

Mengenal Kitab Funun Al-Afnan Fii ‘Uyun Ulum al-Qur’an Karya Imam Ibn Al-Jauzi sangat penting bagi para penuntut ilmu. Karena kitab ini membantu para penuntut ilmu untuk memperdalam ilmu-ilmu al-Qur'an.
Mungkin kita akan awali tulisan ini dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Siapa Imam Ibn Al-Jauzi? Bagaimana biografi Imam Ibn Al-Jauzi? Apa saja karya Imam Ibn Al-Jauzi? Bagaimana latar belakang penulisan Kitab Funun Al-Afnan Fii ‘Uyun Ulum al-Qur’an Karya Imam Ibn Al-Jauzi? Bagaimana isi kandungan kitab Funun Al-Afnan Fii 'Uyun Ulum al-Qur'an karya Imam Ibn Al-Jauzi? Bagaimana metode penulisan kitab Funun Al-Afnan Fii 'Uyun Ulum al-Qur'an karya Imam Ibn Al-Jauzi? Bagaimana contoh bahasan dalam kitab Funun Al-Afnan Fii 'Uyun Ulum al-Qur'an karya Imam Ibn Al-Jauzi? Bagaimana keutamaan Kitab Funun Al-Afnan Fii 'Uyun Ulum al-Qur'an karya Imam Ibn Al-Jauzi?
 
Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut, akan dijawab dalam artikel mengenal kitab funun al-afnan fii 'uyun ulum al-Quran karya Imam Ibn Al-Jauzi. Dalam tulisan ini, penulis hanya akan merujuk ke beberapa referensi akurat yang sifatnya ilmiah. Mari simak artikel ini sampai habis. Bagi yang ingin mengunduh kitab funun al-afnan fii 'uyun ulum al-Quran karya Imam Ibn Al-Jauzi, bisa klik link berikut: Kitab Funun Al-Afnan Fii 'Uyun Ulum Al-Quran Karya Imam Ibn Al-Jauzi.pdf
Sedikit Informasi: Mari kita dukung channel YouTube Jejak Mufassir dengan cara mensubscribe, like dan share. InshaAllah dukungan antum sekalian turut membawa keberkahan bagi kita semua.

A. Biografi Imam Ibnu Al-Jauzi

Namanya adalah Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Ubaid bin Abdillah bin Hamadi bin Ahmad bin Muhammad bin Ja’far bin Abdillah bin Al-Qasim bin An-Nadhr bin Al-Qasim bin Muhammad bin Abdillah bin Al-Faqih Abdillah bin Al-Faqih Al-Qasim bin Muhammad bin Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq Al-Qurasyi At-Taimi Al-Bakri Al-Baghdadi Al-Hambali Al-Wa’izh. Ibnu Al-Jauzi dilahirkan pada tahun 509 Hijriyah. Ada juga yang mengatakan bahwa ia dilahirkan pada tahun 510 Hijriyah. Al-Muwaffaq Abdullatif mengatakan, “Ibnu Al-Jauzi adalah rupawan, baik perangainya, merdu suaranya, santun gerakannya dan menyenangkan senadau guraunya. Pakaian yang ia sukai adalah pakaian yang terbaik dari kain berwarna putih, halus dan wangi. Ia mempunyai akal yang cerdas dan jawaban yang cepat. 

Dalam tulisan Muhammad bin Abdil Jalil Al-Mauqani terdapat keterangan bahwa Ibnu Al-Jauzi meminum sari buah Baladzar. Sebab itu, jenggotnya menjadi rontok dan hanya tinggal sedikit yang tersisa. Jenggot yang tersisa tersebut ia semir dengan warna hitam sampai ia meninggal dunia.[1]
Adapun nama al-Jauzi sendiri dinisbatkan kepada kakeknya yang bernama Ja’far al-Jauzi. Ibnu Khalkan berkata, “Al-Jauzi, nama ini berasal dari nama sebuah tempat yang sangat terkenal, yakni Furdhat al-Jauz.”[2]

Sejak usia 6 tahun, Ibnu Al-Jauzi sudah menjadi yatim. Ayahnya meninggal dunia pada tahun 514 H. Bibinya kemudian membawa Abu al-Faraj ke masjid Abu al-Fadhl bin Nashir yang adalah pamannya sendiri. Orang inilah yang kemudian memelihara, mendidik, dan mengajarkan hadits kepada Ibnu Al-Jauzi. Pada usia muda, Ibnu Al-Jauzi sudah hafal al-Qur’an dengan riwayat sejumlah guru ahli Qur’an yang terkenal.[3]

Kemudian pada masa khalifah an-Nashir, terjadi fitnah terhadap dirinya yang mengakibatkan ia dipenjara di Wasith. Semasa dalam penjara ia tetap didatangi oleh orang-orang untuk belajar dan mendengarkan petuah darinya. Disamping itu ia masih sempat menulis banyak syair kemudian dikirim ke Baghdad. Ia berada dalam penjara selama lima tahun (590- 595 H) dan umurnya pun mendekati 80 tahun. Setelah bebas dari penjara ia pergi ke Baghdad dan disana ia disambut oleh banyak orang. Setelah itu beliau kembali memberi nasehat dan petuah, menulis dan menyebarkan ilmu pengetahuan hingga wafat pada malam jumat 12 Ramadhan 597 H. Antara Isya dan Subuh dalam usia menginjak 90 tahun dan dimakamkan Bab Harb dekat makam imam Ahmad bin Hanbal di Baghdad.[4]

B. Karya-Karya Imam Ibnu Al-Jauzi

Ibnu Al-Jauzi meninggalkan sejumlah besar karyanya yang mencapai empat ratus lebih. Karya-karya ini telah dikritik dan diteliti kesalahannya oleh sebagian ulama. Ia berkata, “Aku hanya mengumpulkan bukan menulis sendiri.”
Di antara karya-karya itu adalah:
1. Zad al-Masir fi Ilmi At-Tafsir,
2. Jami’ul Masanid,
3. Al-Maudhu’at,
4. Talbisu Iblis,
5. Dzammu Al-Hawa,
6. Tuhfat Al-Wa’zh,
7. Tabshirah Al-Mubtadi,
8. Al-Muq’id Al-Muqim,
9. Mustir Al-‘Azm As-Sakin ila Asyraf Al-Amakin,
10. Shifat Ash-Shafwah,
11. Al-Mukhtar fi Ikhtiyar Al-Akhbar,
12. Nasim As-Sihr,
13. Al-Muntakhab,
14. Al-Yawaqit fi Al-Khuthab Al-Wa’zhiyah,
15. Ad-Dalail fi Masyhur Al-Masa’il,
16. Al-Intishar fi Masa’il Al-Khilaf,
17. Al-Mudzahhab fi Al-Madzhab,
18. Manaqib Baghdad,
19. Syudzur Al-‘Uqud fi Tarikh Al-Yahud,
20. Al-Muntazham fi Tarikh Al-Muluk wa al-Umam,
21. Talqih Fuhum Ahli Al-Atsar fi Uyuni At-Tarikh wa As-Siar,
22. Adh-Dhu’afa’,
23. Al-Ahadits Ar-Ra’iqah,
24. Uyun Al-Hikayat,
25. An-Nuz-hah,
26. Al-Mujtaba,
27. Nafyu An-Naql,
28. Al-Hada’iq,
29. Nafyu At-Tasybih,
30. Minhaj Al-Wushul ila Ilmi Al-Ushul,
31. An-Nasikh wa Al-Mansukh,
32. Uyun Ulumi Al-Qiraat,
33. Nuzhat An-Nawazhir,
34. Al-Mughni fi Al-Qiraat,
35. Al-Hamqa wa Al-Mughaffalin
36. Al-Manafi’ fi Ath-Thibb,
37. Asy-Syaib wa Al-Khidhab, Raudhat An-Naqil,
38. Taqim Al-Lisan,
39. Al-Muntaha Al-Musytaha,
40. Al-Wafa bi Ahwal Al-Mushtafa.[5]
 
Adapun karya beliau di dalam bidang ‘Ulumul Qur’an adalah: 
1. Zad Al-Masir fi Ilmi At-Tafsir
2. Funun Al-Afnan fi ‘Uyun Ulum Al-Qur’an

C. Latar Belakang Penulisan Kitab Funun Al-Afnan Fii ‘Uyun Ulum Al-Qur’an

Kitab Funun Al-Afnan fii ‘Uyun Ulum Al-Qur’an ditulis karena kesadaran beliau terhadap keutamaan ilmu al-Qur’an. Hal ini disimpulkan dari perkataan Ibnu Al-Jauzi dalam muqaddimah singkat bukunya, di mana dia berkata:
لما ألفت كتاب "التلقيح في غرائب علوم الحديث" رأيت أن تأليف كتاب في عجائب علوم القران أولى فشرعت في سؤال التوفيق قبل شروعي وابتهجت بما ألهمته وألقي في روعي وها أنا أراعي عرفان المنن ومن راعى
روعي.[6] 
Artinya: "Ketika aku mengarang kitab “At-Talqih fi Gharaib Ulum Al-Hadits" kemudian aku berfikir bahwa mengarang kitab tentang keajaiban ilmu Al-Qur'an lebih utama, maka aku meminta taufiq kepada Allah sebelum memulai untuk menulis kitab tersebut dan aku senang atas apa yang menginspirasiku dan apa yang terlontar dalam pikiranku, dan di sini aku panjatkan rasa syukur atas pengetahuan dan kepada siapa yang memberi ilham kepadaku".

D. Isi dan Kandungan Kitab Funun Al-Afnan Fii ‘Uyun Ulum Al-Qur’an

  • Nubzah min fadhail Al-Qur'an (نبذة من فضائل القرآن), 
  • Anna Al-Qur'an Ghairu Makhluq (أن القرآن غير مخلوق), 
  • Nuzul Al-Qur'an 'Ala Sab'ati Ahruf (نزول القرآن على سبعة أحرف), 
  • Kitabah Al-Mushaf wa hijaaihi (كتابة المصحف وهجائه), 
  • 'Adadu Suwar Al-Qur'an wa Ayatihi wa Kalimatihi wa Hurufihi wa Nuqatihi (عدد سور القرآن وآياته وكلماته وحروفه ونقطه), 
  • Dzikru Ajzail Qur'an (ذكر أجزاء القرآن), 
  • 'Adad Ayat As Suwar (عدد آيات السور), 
  • Bayan As-Suwar Al-Makiyyah min Al-Madaniyyah (بيان السور المكية من المدنية), 
  • Dzikru Al-Lughat Fi Al-Qur'an (ذكر اللغات في القرآن), 
  • Adab Al-Waqfu wa Al-Ibtida (آداب الوقف والابتداء), 
  • Fi Tafsir An-nasakh, 
  • Al-Muhkam wa Al-Mutasyabih (في تفسير النسخ، المحكم والمتشابه), 
  • Min Musykil ma fi Al-Qur'an minhu harfun wahidun (من مشكل ما في القرآن منه حرف واحد), 
  • Min Al-Mutasyabih (من المتشابه), 
  • Ibdal Kalimah bikalimah au Harf biharf min Al-Mutasyabih (إبدال كلمة بكلمة أو حرف بحرف من المتشابه), 
  • Al-Huruf Az-Zawa-id wa An-Nawaqish min Al-Mutasyabih (الحروف الزوائد والنواقص من المتشابه), 
  • Al-Mufrad min Al-Mutasyabih (المفرد من المتشابه), 
  • Bab fihi masail ya'ya biha fi Al-Mutasyabih (باب فيه مسائل يعايا بها في المتشابه), 
  • Bab Dziru Al-Awshaf Allati Syarakat Ummatuna fiha Al-Anbiya' (باب ذكر الأوصاف التي شاركت أمتنا فيها الأنبياء).

E. Metode Penulisan Kitab Funun Al-Afnan Fii ‘Uyun Ulum Al-Qur’an

Pada bab “keutamaan al-Qur’an”, Ibnu Al-Jauzi memperkenalkan tentang besarnya pahala bagi orang yang belajar al-Qur’an. Hal ini menjadi motivasi bagi yang membaca buku ini, untuk lanjut ke bahasan tentang ilmu-ilmu al-Qur’an pada bahasan berikutnya.

Adapun dalam bab “al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluq”, Ibnu Al-Jauzi menuliskan beberapa dalil yang menunjukkan bahwa al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluq, beliau juga memaparkan dalil ijma’ para sahabat, tabi’in serta imam-imam setelahnya dari abad ke abad, bahwa mereka sepakat bahwa al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluq, yang mengatakan selain itu, maka ia kafir.
Pada bab “turunnya al-Qur’an dalam tujuh huruf”, beliau menyebutkan perbedaan pendapat para ulama terkait maksud daripada tujuh huruf. Lalu beliau menguatkan pendapat bahwa yang dimaksud tujuh huruf itu adalah tujuh bahasa dari kaum Arab.
Pada bab “penulisan al-Mushaf dan pengejaannya”, beliau hanya membahas tentang penulisan kata-kata yang memiliki perbedaan dengan kaidah penulisan bahasa secara umum dan tidak serta merta membahasnya secara umum melainkan secara terperinci.
Pada bab “jumlah surat dalam al-Qur’an, ayat-ayatnya, kalimat, huruf-huruf dan titik-titiknya”, beliau menyebutkan perbedaan dalam jumlah ayat al-Qur’an dengan menyebut beberapa madzhab dalam penentuan ayat dalam al-Qur’an dengan dinisbatkan kepada lima daerah, yakni Makkah, Madinah, Kuffah, Bashrah, dan Syam. Terakhir beliau menyebutkan jumlah titik dalam al-Qur’an.
Pada bab “bagian-bagian al-Qur’an”, Ibnu Al-Jauzi menyebutkan beberapa tempat pembagian al-Qur’an dalam rangka untuk membantu pembaca al-Qur’an dalam menghafal dan mengingat al-Qur’an. Adapun dalam bab jumlah ayat dalam setiap surah, Ibnu Al-Jauzi menyebutkan jumlah ayat al-Qur’an pada setiap surah dari al-Fatihah hingga an-Nas. Kemudian beliau juga menyebutkan beberapa pendapat ahli qiroa’ah dalam jumlah ayat setiap surah dengan menjelaskan pendapat yang disepakati dan dipertentangkan.

F. Contoh Pembahasan dalam Kitab Funun Al-Afnan Fii ‘Uyun Ulum Al-Qur’an

Contohnya yakni bahasan mengenai nuzul al-Qur’an ‘ala sab’ati ahruf (نزول القران على سبعة أحرف). Ibnu Al-jauzi memulai bahasan dengan menulis hadits tentang turunnya al-Qur'an dalam tujuh huruf. Dalam penyebutan hadits ini Imam Ibnu Al-Jauzi menyebutkan sanad haditsnya dengan lengkap, sebagaimana yang beliau tulis di awal bab ini.
أخبرنا ابن الحصين، قال جدثنا أبن المذهب، قال: أخبرنا أبو بكر بن مالك، قال: أخبرنا عبد الله بن أحمد بن حنبل، قال: حدثنا أبي، قال: أخبرنا عبد الأعلى، عن معمر عن الزهري، عن عروة، عن المسور بن مخرمة: أن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: ((سمعت هشام بن حكيم بن حرام يقرأ سورة الفرقان فقرأ فيها حروفا لم يكن نبي الله صلى الله عليه وسلم أقرأنيها، فأردت أن أساوره وأنا في الصلاة، فلما فرغ قلت: من أقرأك هذه القراءة؟ قال: رسول الله صلى الله عليه وسلم، قلت: كذبت! فأخذت بيده أقوده إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقلت: إنك أقرأتي سورة الفرقان، وإني سمعت هذا يقرآ حروفا لم تكن أقرأتنيها! فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: اقرآ يا هشام، فقرأ كما كان قرأ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: هكذا أنزلت، ثم قال: اقرأ يا عمر، فقرأت، فقال: هكذا أنزلت، ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إن القرآن أنزل على سبعة
أحرف) .[7] 
Artinya: “Dari Ibnu Al-Husain, dari Ibnu Al-Madzhab, dari Abu Bakar bin Malik, dari Abdullah bin Ahmad bin Hambal, dari ayahku, dia berkata, bahwa Abdullah Al-A’la memberitahukan kepadaku, dari Mu’ammar dari Az-Zuhri dari Urwah, dari Al-Miswar bin Mukhramah, bahwa Umar bin Al-Khattab RA pernah berkata, “Saya mendengar Hisyam bin Hakim bin Hizam membaca surat Al-Furqan, lalu dia membaca di dalam surat itu beberapa huruf yang tidak pernah rasulallah membacakannya kepadaku, mendengar bacaannya tersebut aku ingin sekali menyerangnya sedangkan aku dalam kondisi shalat. Maka setelah selesai melakukan shalat, aku berkata kepadanya, “Siapa yang membacakan ayat itu kepadamu dengan bentuk bacaan seperti itu?” Hisyam berkata, “Rasulullah”. Kemudian aku berkata, “Kamu bohong”. Kemudian aku membawanya kepada rasulallah, kemudian aku berkata, wahai rasul, sesungguhnya engkau telah membaca surat Al-Furqan kepadaku, sedangkan aku mendengar dia (Hisyam) membacanya dengan cara yang tidak kamu baca. Rasul berkata, “Bacalah wahai Hisyam’. Kemudian Hisyam membacanya seperti yang dia baca pada waktu shalat. Kemudian rasul berkata, “begitu lah ayat ini diturunkan”. Kemudian berkata kepada Umar, “bacalah wahai Umar”. Kemudian Umar membacanya. Lalu rasul berkata, “begitulah Al-Qur’an diturunkan”. Kemudian rasul bersabda, “Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf”.

Setelah menyebutkan hadits tersebut, Ibnu Al-Jauzi menyebutkan derajat hadits tersebut, dengan berkata:
هذا حديث صحيح أخرجه البخاري ومسلم.[8] 
Artinya: “Hadits ini shohih, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim”.
Al-Jauzi juga menyebutkan takhrij haditsnya terkait perbedaan pendapat ulama dalam memaknai maksud daripada tujuh huruf dalam hadits tersebut. Ada kurang lebih 35 pendapat, namun hanya 14 pendapat saja yang beliau tulis dan beliau menguatkan bahwa yang dimaksud tujuh huruf dalam hadits bermakna tujuh bahasa orang Arab. 

Kemudian beliau menyebutkan perbedaan pendapat para ulama terkait tujuh bahasa tersebut, yakni terkait al-Qur’an diturunkan pada bahasa mana saja dari bahasa kaum Arab. Namun beliau menafikan keshahihan setiap hadits yang menetapkan tujuh bahasa Arab dimana al-Qur'an diturunkan. Kemudian beliau memperlihatkan pendapat beliau terhadap penentuan tujuh bahasa tersebut bahwa setiap hadits yang menyebutkan secara khusus tentang tujuh bahasa tersebut maka hadits itu tidak sah sanadnya, akan tetapi al-Qur’an diturunkan dengan berbahasa Arab dalam tujuh bahasa Arab yang benar.

Baca juga beberapa artikel terkait:
1. Studi Naskah Kitab Al-Burhan fi Ulum Al-Qur'an Karya Imam Az-Zarkasyi
2. Studi Naskah Kitab I'jaz Al-Qur'an Karya Al-Baqillani
3. Kajian Naskah Kitab Manhajul Furqan fi Ulum Al-Qur’an Karya Muhammad Ali As-Salamah
4. Mengenal Kitab Manahil Al-irfan fi Ulum Al-Qur'an Karya Imam Az-Zurqani
5. Kajian Naskah Kitab At-Tibyan fi Aqsam Al-Qur'an Karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

G. Keutamaan Kitab Funun Al-Afnan Fii 'Uyun Ulum al-Qur'an

Adapun keutamaan kitab Funun al-Afnan Fii ‘Uyun Ulum al-Qur’an, di antaranya:
1. Memiliki pola susunan kalimat yang sederhana, jelas dan mudah dipahami.
2. Menggabungkan dasar-dasar ilmu al-Qur’an yang telah ada.
3. Menjauhi penulisan judul yang telah ditulis pada bahasan sebelumnya.
4. Tulisannya dibangun atas dasar runtutan logika yang mengalir dalam menampilkan maklumat yang ada.
5. Dalam beberapa bab buku ini, Ibnu Al-Jauzi melakukan komparasi antara judul bab yang dibahas dengan karangan sebelumnya. Terlebih kitab ini ditulis setelah beliau menulis kitab tafsir Zad-Al-Masir Fii ‘Ulum al-Qur’an. Hal ini tampak dari perkataan beliau dalam bukunya, “permasalahan ini telah saya sebutkan dalam buku tafsir”.
6. Menampilkan statistik ayat-ayat yang mutasyabih, bahkan beliau meletakkan ayat-ayat yang mutasyabih dengan ayat mutasyabih lainnya dengan berpasang-pasangan, walaupun terdapat dalam ayat dan surat yang berbeda-beda. Fase ini merupakan fase yang ada di atas fase pengelompokan lafaz-lafaz Al-Qur'an.
7. Ibnu Al-Jauzi memberikan pendapat yang kuat dalam permasalahan pokok, seperti dalam permasalah tujuh huruf al-Qur’an.

Daftar Pustaka
Al-Jauzi, Abdurrahman. Funun Al-Afnan Fi Uyun Ulum Al-Qur’an. 1st ed. Beirut: Dar Al-Basya’ir Al-Islamiyyah, 1987 M/1408 H.
Al-Jauzi, Ibnu. Al-Wafa; Kesempurnaan Pribadi Nabi Muhammad SAW/Ibnul Jauzi. Penerjemah: Mahfud Hidayat & Abdul Mu’iz. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006.
———. Bustan Al-Wa’izhin: Suluh Penyucian Jiwa; Penerjemah, Imam Firdaus. Edited by Ahmad Faisal. Jakarta: Qisthi Press, 2009.
Al-Maraghi, Abdullah Musthafa. Ensiklopedia Ulama Ushul Fiqh Sepanjang Masa. Yogyakarta: IRCiSoD, 2020.
Farid, Syaikh Ahmad. 60 Biografi Ulama Salaf. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006.
Rasjiddin, Sjafri. “Metodologi Kritik Matan Dalam Kitab Al-Maudhu’at Karya Ibn Al-Jauzi.” MEDIASI 9, no. 2 (2015): 17–27.
[1] Syaikh Ahmad Farid, 60 Biografi Ulama Salaf (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006), h. 716.
[2] Ibnu Al-Jauzi, Bustan Al-Wa’izhin: Suluh Penyucian Jiwa; Penerjemah, Imam Firdaus, ed. Ahmad Faisal (Jakarta: Qisthi Press, 2009), h. 4.
[3] Abdullah Musthafa Al-Maraghi, Ensiklopedia Ulama Ushul Fiqh Sepanjang Masa (Yogyakarta: IRCiSoD, 2020), h. 290.
[4] Sjafri Rasjiddin, “Metodologi Kritik Matan Dalam Kitab Al-Maudhu’at Karya Ibn Al-Jauzi,” MEDIASI 9, no. 2 (2015): 17–27.
[5] Ibnu Al-Jauzi, Al-Wafa; Kesempurnaan Pribadi Nabi Muhammad SAW/Ibnul Jauzi. Penerjemah: Mahfud Hidayat & Abdul Mu’iz (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006).
[6] Abdurrahman Al-Jauzi, Funun Al-Afnan Fi Uyun Ulum Al-Qur’an, 1st ed. (Beirut: Dar Al-Basya’ir Al-Islamiyyah, 1987 M/1408 H), h. 141.
[7] Ibid, h. 196 - 198.
[8] Ibid, h. 198.
 
Penulis: Ahmad Yani 
Mengenal Kitab Funun Al-Afnan Fii ‘Uyun Ulum al-Qur’an Karya Imam Ibn Al-Jauzi
Baca Juga: