Hakikat Dakwah, Tujuan Dakwah dan Keseragaman Dakwah Para Nabi


Hakikat Dakwah, Tujuan Dakwah dan Keseragaman Dakwah Para Nabi
Oleh : Ahmad Yani 
Ahad, 26 April 2020



A.      Hakikat Dakwah
Pada dasarnya hakikat dakwah terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu:
a.         sebagai aktualisasi fungsi kerisalahan,
b.        sebagai upaya manifesti dari rahmatan lil 'alamin. (Amin, 2008: 46)
1)        Fungsi Kerisalahan
Hakikat dakwah sebagai fungsi kerisalahan, berarti upaya penerusan “tradisi profetis” kerasulan Muhammad sebagai pembawa risalah Islam kepada seluruh umat manusia “Tradisi profetis” tersebut dilakukan oleh umat Islam demi menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada muslim maupun nonmuslim sebagai upaya sosialisasi nilai-nilai Islam yang fitrah. (Amin, 2008: 46)
2)        Manifesti Rahmatan lil ‘Alamin
Hakikat dakwah sebagai manifestasi rahmatan lil ‘alamin, berarti upaya menjadikan Islam sebagai sumber konsep bagi manusia di dunia ini di dalam meniti kehidupannya. Artinya, bahwa konsep-konsep Islam tidak sekedar ditujukan bagi umat Islam semata, melainkan juga untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. (Amin, 2008: 49)
B.       Tujuan Dakwah
Mengenai tujuan dakwah, pertama, mengubah pandangan hidup. Dalam Surah Al-Anfal ayat 24, disiratkan bahwa yang menjadi maksud dari dakwah adalah menyadarkan manusia akan arti hidup yang sebenarnya. Hidup bukanlah makan, minum, dan tidur saja. Manusia dituntut untuk mampu memaknai hidup yang dijalaninya. Kedua, mengeluarkan manusia dari gelap-gulita menuju terang-benderang. Ini diterangkan dalam firman Allah:
الٓرۚ كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ لِتُخۡرِجَ ٱلنَّاسَ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذۡنِ رَبِّهِمۡ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ 
Artinya: “(Ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (Q.S. Ibrahim 14: 1). (Sukayat, 2009: 3-4)
C.      Keseragaman Dakwah Para Nabi
Pada hakikatnya, seruan Rasulullah itu tidak mengandung sesuatu yang baru. Seruan ini lebih ditujukan untuk mengulang atau mengingatkan kembali pada ajaran tauhid yang telah dibawa oleh nabi-nabi sebelum Muhammad. (Ubaidullah, 2015: 37-38)
Allah juga berfirman dalam al-Qur’an, sebagai berikut:
وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ 
Artinya: “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku.” (Q.S. Al-Anbiya 21: 25)


Sumber Referensi:
Amin, S. M. (2008). Rekonstruksi Pemikiran Dakwah Islam. Jakarta: Amzah.
Sukayat, T. (2009). Quantum Dakwah. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Ubaidullah. (2015). Surat Dakwah Nabi Muhammad SAW: Analisis Tematik Atas Surat-surat Nabi Muhammad Kepada Para Raja. Ibda: Jurnal Kebudayaan Islam, 13(1).
Hakikat Dakwah, Tujuan Dakwah dan Keseragaman Dakwah Para Nabi
Baca Juga: